Rabu, 09 November 2022
Rabu, 24 Februari 2021
bertaman ombak camar
lama,
lama tak menikmati suasana pantai
suasana pantai yg tak santai
menikmati deburan ombak yg kian menjerambab
butiranya tanpa ragu menerkam wajah
lama,
lama tak menikmati suasana pantai
dengan panas yg tak sepoi
sunsetnya mebakar kulit yg kian legam saja
tak berteman tak bertuan
badan kurus kerkejut
terlalu lama diam dalam kering dan teduh
di goa imajiner, didunia tanpa kata
semoga kau baik-baik saja burung camar
lama berteman dengan terik dan ombak
berteman dengan sampah-sampah yg bertambah
tetaplah berdiri disana, karena tanpa mu
pantai dan laut seolah hanya kesunyian belaka.
aulia rama
pringsewu, 24 feb 2021
Senin, 02 Maret 2020
Sore bersama kopi
Negara ini terlalu lama dicengkram oleh ketakutan dan keterbatasan. Dibangun oleh kekuatan-kekuatan kekuasaan, bukan kemanusiaan.
Manusia bangsa ini, sudah terlampau lama menahan, melihat kediktatoran penguasa yg kebal terhadap aturan.
"sepertinya enak jika jadi orang gedean, tak perlu ada kewajiban, hanya hak dan hak yang ia terima"
Sampai sekat-sekat itu roboh oleh gelombang pemuda, hancur oleh gumam yang terus berkumandang, hancur oleh kumpulan umpatan. Gelombang itu tak pernah berhenti mengolok-olok masa lalu yg ahirnya tanpa sadar mereka menjadi masa lalu.
Gelombang itu terus berdampak sistemik, menciptakan oligarki-oligarki di setiap sudut.
Rubuhnya sekat yg dulu berdiri kokoh, hanya untuk menciptakan remahan sekat-sekat baru. Melanggengkan monarki didalam demokrasi palsu.

Hidup dinegara ini, jika tak punya lidah panjang, maka akan termakan jaman.
Jika tak punya kantong tebal, akan menjadi gundik para culas berkedok pahlawan.
Tapi ah sudahlaah
Aku masih memilih menepi, menikmati kopi dan mencium harum bunga cengkeh dihalaman belakang, melihat guguran bunga angsana yg seolah menari di penghujung haru yg syahdu, aku seolah menciptakan dunia baru tanpan kebisingan jaman yg semakin edan.
Pringsewu, 23 januari 2020
Manusia bangsa ini, sudah terlampau lama menahan, melihat kediktatoran penguasa yg kebal terhadap aturan.
"sepertinya enak jika jadi orang gedean, tak perlu ada kewajiban, hanya hak dan hak yang ia terima"
Sampai sekat-sekat itu roboh oleh gelombang pemuda, hancur oleh gumam yang terus berkumandang, hancur oleh kumpulan umpatan. Gelombang itu tak pernah berhenti mengolok-olok masa lalu yg ahirnya tanpa sadar mereka menjadi masa lalu.
Gelombang itu terus berdampak sistemik, menciptakan oligarki-oligarki di setiap sudut.
Rubuhnya sekat yg dulu berdiri kokoh, hanya untuk menciptakan remahan sekat-sekat baru. Melanggengkan monarki didalam demokrasi palsu.

Hidup dinegara ini, jika tak punya lidah panjang, maka akan termakan jaman.
Jika tak punya kantong tebal, akan menjadi gundik para culas berkedok pahlawan.
Tapi ah sudahlaah
Aku masih memilih menepi, menikmati kopi dan mencium harum bunga cengkeh dihalaman belakang, melihat guguran bunga angsana yg seolah menari di penghujung haru yg syahdu, aku seolah menciptakan dunia baru tanpan kebisingan jaman yg semakin edan.
Pringsewu, 23 januari 2020
Kamis, 15 November 2018
twins poem
mematung bagai tonggak berdiri
disaat itulah kita baru menyadari
bahwa waktu tidak pernah berhenti berlari
disaat itulah kita baru menyadari
bahwa waktu tidak pernah berhenti berlari
ada kalanya kita tenggelam dalam angan menunggu
dmana kita terbuai diantara keindahan semu
jatuh dan meronta pada keadaan yg tidak bisa menunggu
Sebab, sejatinya kita bergulat dengan waktu
dmana kita terbuai diantara keindahan semu
jatuh dan meronta pada keadaan yg tidak bisa menunggu
Sebab, sejatinya kita bergulat dengan waktu
kita pernah melakukan hal percuma
bersanding tangis dan tawa bahagia
kita adalah pion yg terbentuk dari sebuah anekdot masa
terjebak dalam lingkarannya
Namun proses itu teteplah bagian dari kita
Bahwa kadang melakukan hal yg percuma bukan sia-sia
bersanding tangis dan tawa bahagia
kita adalah pion yg terbentuk dari sebuah anekdot masa
terjebak dalam lingkarannya
Namun proses itu teteplah bagian dari kita
Bahwa kadang melakukan hal yg percuma bukan sia-sia
lawan yg paling berat adalah diri kita
dan kawan paling baik adalah musuh kita
Maka berkawanlah pada keduanya
sebab, mereka yg menjadikan diri kita ada
dan kawan paling baik adalah musuh kita
Maka berkawanlah pada keduanya
sebab, mereka yg menjadikan diri kita ada
Pringsewu
rama aulia
2018
rama aulia
2018
Selasa, 17 April 2018
Tetaplah Menulis
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
― Pramoedya Ananta Toer, House of Glass
Dalam bagian terkecil, mungkin keadaan saya seperti alm bj habibie, saya harus terus menulis, karena dijaman ini, gagasan-gagasan saya di anggap terlalu imajiner. Maka bagi saya, dengan menulis gagasan itu, saya lebih bisa menjadi tenang.
― Pramoedya Ananta Toer, House of Glass
Banyak hari tebuang dengan kesibukan dan segala proses didalamnya, kadang saya berfikir tentang esensi apa yang saya lakukan hari ini. Seperti Blog ini, tulisan-tulisan ini akan saya tinggalkan untuk generasi ramaisme dimasa depan. Mungkin sepuluh, dua puluh atau bahkan berpuluh-puluh tahun lagi, tulisan ini akan memberikan sedikit manfaat, atau bahkan sudah di anggap usang. Saya tidak peduli, dengan ego menulis saya, saya tak berharap apapun untuk semua tulisan saya.
Dalam bagian terkecil, mungkin keadaan saya seperti alm bj habibie, saya harus terus menulis, karena dijaman ini, gagasan-gagasan saya di anggap terlalu imajiner. Maka bagi saya, dengan menulis gagasan itu, saya lebih bisa menjadi tenang.
Saya menulis, suka menulis, apapun yang terjadi, menulis adalah bagian dari perjalanan hidup saya.
Hari ini, setelah tulisan terahir, ahirnya saya kembali menemukan keberanian untuk membuka Blog usang ini. Diantara suara adzan yang akab dari masjid-masjid lingkungan rumah, jari-jemari ini terus menekan tombol-tombol keyboard, dan jelas saya tidak tahu apa yang akan saya tulis ini.
Malam ini, bukan malam yang spesial, malam masih sama seperti malam-malam yang lainya, panasnya kota masih juga sama, begitu juga dengan laptop pinjaman dari istri, bedanya ada didalam sini, keinginan yang kembali untuk membuka tumpukan-tumpukan tulisan ini.
Tulisan adalah skrip ideologis yang terukir, orang-orang akan mengenal siapa dirimu dan seberapa kompleks pikiran mu lewat tulisan-tulisan yang kita goreskan. Kita mengenal maslow dengan teori kebutuhannya, enstein dengan e=mc2, plato, scorstes atau filsuf - filsuf dan pemikir maju dijamannya, mereka menulis untuk pengetahuan dijamannya serta pijakan untuk peradaban untuk generasi setelahnya.
Dengan menulis, peradaban tidak perlu memgulang hal yang sama, generasi setelahnya melanjutkan apa yang sudah dumulai para pendahulu mereka. Seperti apa yang sudah di mulai newton soal grafitasi dilanjutkan oleh penemu-penemu generasi setelahnya, pengetahuan selalu menumui babak baru, tidak perlu belajar lagi dari nol.
Setelah menulis selesai, masalah berikutnya adalah minat baca, seperti pada saat sekarang ini, dimulai dari 10 atau 15 tahun yang lalu ketika jaman bertransisi ke era digital, semua serba instan, ketika minat baca rendah, jutaan pengetahuan yang terbelenggu dalam buku-buku tetap akan menjadi tulisan-tulisan usang, tidak akan berarti apa-apa. Pengetahuan tetap berbentuk *.rar, maka takan berarti apa-apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita. Kebendaraharaan kata dan literasi adalah hal yg fundamental, tanpa membaca anda tak akan bisa menulis.
Apapun yang akan tetjadi, dihargai atau tidak, dimuat dan diterbitkan atau tidak, penulis akan tetap menulis. Menulis adalah kebutuhan bagi seorang penulis, tidak perlu alasan untuk mencintai, begitu juga dengan menulis.
Tetaplah menulis, sebab dengan menulis, engkau akan tetap hidup.
Tulisan adalah skrip ideologis yang terukir, orang-orang akan mengenal siapa dirimu dan seberapa kompleks pikiran mu lewat tulisan-tulisan yang kita goreskan. Kita mengenal maslow dengan teori kebutuhannya, enstein dengan e=mc2, plato, scorstes atau filsuf - filsuf dan pemikir maju dijamannya, mereka menulis untuk pengetahuan dijamannya serta pijakan untuk peradaban untuk generasi setelahnya.
Dengan menulis, peradaban tidak perlu memgulang hal yang sama, generasi setelahnya melanjutkan apa yang sudah dumulai para pendahulu mereka. Seperti apa yang sudah di mulai newton soal grafitasi dilanjutkan oleh penemu-penemu generasi setelahnya, pengetahuan selalu menumui babak baru, tidak perlu belajar lagi dari nol.
Setelah menulis selesai, masalah berikutnya adalah minat baca, seperti pada saat sekarang ini, dimulai dari 10 atau 15 tahun yang lalu ketika jaman bertransisi ke era digital, semua serba instan, ketika minat baca rendah, jutaan pengetahuan yang terbelenggu dalam buku-buku tetap akan menjadi tulisan-tulisan usang, tidak akan berarti apa-apa. Pengetahuan tetap berbentuk *.rar, maka takan berarti apa-apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita. Kebendaraharaan kata dan literasi adalah hal yg fundamental, tanpa membaca anda tak akan bisa menulis.
Apapun yang akan tetjadi, dihargai atau tidak, dimuat dan diterbitkan atau tidak, penulis akan tetap menulis. Menulis adalah kebutuhan bagi seorang penulis, tidak perlu alasan untuk mencintai, begitu juga dengan menulis.
Tetaplah menulis, sebab dengan menulis, engkau akan tetap hidup.
Rabu, 07 Februari 2018
Batok Pring
Batok Pring,
begitu terdengar nama khas jawa tersebut, kita tentu bertanya-tanya, apa itu batok dan pring, apakah hanya sebuah dua nama benda yang memang secara fisik dan fungsinya berbeda atau memang ada sebuah makna dibalik itu semua.
Batok Pring adalah sebuah Cafe dan foodcourt di sebuah tempat kabupaten Pringsewu, dengan jargon "satu tempat ribuan menu", Batok Pring memberikan keunggulan menu-menu berfariasi kepada pengunjung, rasa dan tempat yang nyaman. Disana memungkinkan pengunjung untuk mengadakan acara-acara seperti rapat, gathering, seminar, pelatihan kreativitas atau yang lainnya.
Batok Pring sendiri sebuah kepanjangan dari Basis Tongkrongan Pringsewu, selain membawa revolusi sebuah tempat kuliner yang sudah ada, konsep-konsep back to nature juga dihadirkan disana serta free wifi dengan kecepatan maksimum mendukung proses belajar dan game online.
Banyak pengunjung yang sudah datang kesini, seperti pada malam Grand Opening, Wakapolres sempat menyumpang lagunya, silahkan updatean di ig mereka. Kemudian acara-acara sekaliber KPU, Cheff hotel berbintang juga menyempatkan diri hadir untuk menyicipi dan memberikan masukan tentang menu-menu dan kualitas rasa makanan. Untuk anda yang menyukuai kuliner dengan tempat yang luar biasa, saya menyerankan untuk mencobamenikmati syahdunya malam di Batok Pring, dengan membuka acount fb batok Pring di https://goo.gl/1VGcXS
Bagi saya, tempat seperti Batok Pring memang sudah dibutuhkan di kabupaten sekelas pringsewu yang notabane sudah menyatakan diri sebagai kota kuliner. Selain itu pringsewu secara geografis ekonomi adalah sebagai penyangga ekonomi-ekonomi daerah tertinggal lingkup Pringsewu. Sehingga akan banayak orang yang hilir mudik dengan pringsewu sebagi central.
Rabu, 19 Juli 2017
etika kepemimpinan, studi kasus pembangunan pasar
Cerita ini hanya Fiktif, kesamaan latar belakang, lokasi serta nama bukan karena Kesengajaan penulis :p
Akhir-akhir ini, didesa saya sedang ramai dengan pembangunan pasar tradisional yang rencananya akan menggunakan Apbn senilai 6 (Enam) Milyard rupiah. Akan sangat megah segali jika dana tersebut digunakan dengan baik, dan desa kami mungkin menjadi Pasar paling mentereng sekabupaten.
Hal-hal baik akan timbul, tertatanya lapak-lapak pedagang, kebersihan, teknologi, tata kelola pasar, pasar tradisional modern pertama, ya sekali lagi.., tidak hanya itu saja, hal tersebut juga di ikuti seperti naiknya harga tanah sekitarnya, termasuk tanah orang tua saya mungkin, kemudian desa kami akan lebih dikenal dengan bantuan tersebut, President sudah berusaha dengan baik terkait dengan programnya dulu.
Selasa, 11 Juli 2017
Lupa itu Nikmat
Selamat datang pagi, mebawa udara segar masuk kedalam tubuh, membawa kesejekuan serta harapan-harapan baru untuk diperjuangkan kembali, pagi adalah titik awal yang baru, dimana kita bangkit dari sebuah rencana untuk segera mengeksekusinya. Seperti tulisan-tulisan ini, tidak pernah berhenti untuk mengajak berpikir dan berhayal sejenak.
Setiap orang, balita, anak-anak, remaja ataupun dewasa, lupa adalah salah satu sifat alamiah manusia. Prof tidak tahu sejak kapan lupa menjadi kata sifat, mungkin karena lupa identik dengan kata sambungan "sifat" jadilah "sifat pelupa", mungkin seseorang disana mengkelompokan lupa menjadi kata benda atau yang lainya, tapi itu bukan sesuatu hal yang penting untuk dibahas sekarang, hanya untuk menambah agar tulisan ini terkesan banyak pada paragraf pertama, padahal bukanlah hal yang penting sama sekali, tapi terimakasih untuk terus membaca.
Setiap orang, balita, anak-anak, remaja ataupun dewasa, lupa adalah salah satu sifat alamiah manusia. Prof tidak tahu sejak kapan lupa menjadi kata sifat, mungkin karena lupa identik dengan kata sambungan "sifat" jadilah "sifat pelupa", mungkin seseorang disana mengkelompokan lupa menjadi kata benda atau yang lainya, tapi itu bukan sesuatu hal yang penting untuk dibahas sekarang, hanya untuk menambah agar tulisan ini terkesan banyak pada paragraf pertama, padahal bukanlah hal yang penting sama sekali, tapi terimakasih untuk terus membaca.
Dalam perspektif agama, banyak literatur yang mengatakan bahwa sifat lupa ini dikarenakan beberapa sebab, salah satunya yang paling banyak keluar di mesin pencari adalah karena terlalu banyak melakukan maksiat. oke itu mungkin sebagian kebenaran yang kecil jika dianalisis, namun kebenaran harus dibuktikan dengan sebuah penelitian-penilitian, atau hasil penelitian seperti jurnal ilmiah, tesis atau beberapa diskusi ilmiah didalam forum-forum. Ini bukan alibi atau sekedar pledoi saya karena saya seorang pelupa berat, tapi mari kita berobjektif dalam segala hal. saya kesal sekali jika lupa meletakan kacama mata, jika indra penciuman berkerja dengan baik, mungkin akan lebih mudah mencari kecamata dengan minus berapapun.
Jumat, 07 Juli 2017
Mahalnya Harga Pernikahan
Idul fitri baru saja kita lewati, dengan berbagai macam pernak-perniknya, dengan segala kesibukan dan kemacetan lalu-lintas kota. Jalanan seolah mendadak menjadi parkiran terpanjang dan terhebat yang pernah ada, dari arus mudik kemudian seremonial silahturahim yang menjadi budaya orang-orang kita, sampai yang terahir adalah perjalanan arus balik. Semua berlomba ingin secepatnya sampai ketujuan, rasa lelah yang tidak terhitung jumlahnya, lenyap seketika. Sekarang hanya menyisakan sisa-sisa dari sebuah hari besar umat, dan menyusul persiapan-persiapan yang lain.
Minggu-minggu setelah perayaan itu, undangan pernikahan mulai berdatangan, momen libur panjang yang sangat sepesial, keluarga, kerabat, kawan sejawat berdatangan, moment lebaran, semua orang pasti pulang ke kampung halaman dengan harapan yang sagat besar. Disaat itulah beberapa membaca peluang untuk merayakan hari yang sakral, upacara pernikahan. Dengan segala proses yang dilalui, kenakalan remaja, cinta monyet dan pembicaraan jangka panjang seolah semua itu akan terlewati dengan damai nan indah. Persiapan dilakukan, semua peralatan dibeli dan disewa, kerabat serta tetangga sibuk menyiapkan, dengan harapan acara akan dapat sepenuhnya berjalan lanjar, tanpa mengurangai kewibawaan sang punya hajat. Semua berharap canda-tawa dan tangis haru akan ada disana.
Namun, dibalik itu semua, ada sebuah lubang besar yang menganga, ada sebuah ironi membawa serta konsekuensi. Hal itu adalah persepsi pernikahan, budaya yang membawa kesakralan menjadi pesta-pesta dengan bamyak keluh, gunjing, peluh, kemubaziran dan topeng-topeng bahagia. Resepsi yang "harus" dilakukan menyisakan hutang dimana-mana jika isi kotak tidak berimbang dengan pengeluaran pesta, mungkin ini sebuah bisnis baru. Resepsi menyisakan gunjing jika semua persiapan tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat atau ekpektasi dari yang membantu penyiapan resepsi, tentang dagingnya yang sedikit, tentang rokoknya, tentang pelitnya tuan rumah, tentang banyak hal.
Dan resepsi pernikahan akan menyisakan kemubaziran karena banyak hal yang terbuang secara sia-sia, berapa banyak nasi, lauk-pauk, sayuran, roti, air minum dan segalanya setelah pesta selesai, dengan dalih tasyakuran orang-orang rela merogoh kocek dengan nominal fantastis hingga menjual sebagian dari harta mereka, dengan beberapa kebiasaan adat istiadat yang berbeda disetiap daerah, Provinsi Lampung misalnya, harus melakukan hal tersebut selama tujuh hari tujuh malam (katanya),
bagaimana dengan artis-artis, tokokh-tokoh nasional serta elit politik yang menggelar resepsi anaknya, sungguh bukan contoh yang baik bagi negarawan dan figur publik, sedang jika dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, nilai tersebut dapat menghidupi beberapa minggu orang-orang yang memang dianggap pantas menerima bantuan, jika prof mungkin lebih baik untuk modal usaha, menjadi wirausaha berhenti menjadi karyawan. Jadi untuk apa bermegah-megah dalam melukan pernikahan? pamer ? tidak enak dengan tetangga atau sambil menepuk dada dengan bangga berkata "inilah saya", saya katakan itu tidak perlu sama sekali, bukan sesuatu yang penting dan Tuhan tidak menilaimu dengan sebuah jamuan yang berlih-lebihan.
Dan resepsi pernikahan akan menyisakan kemubaziran karena banyak hal yang terbuang secara sia-sia, berapa banyak nasi, lauk-pauk, sayuran, roti, air minum dan segalanya setelah pesta selesai, dengan dalih tasyakuran orang-orang rela merogoh kocek dengan nominal fantastis hingga menjual sebagian dari harta mereka, dengan beberapa kebiasaan adat istiadat yang berbeda disetiap daerah, Provinsi Lampung misalnya, harus melakukan hal tersebut selama tujuh hari tujuh malam (katanya),
bagaimana dengan artis-artis, tokokh-tokoh nasional serta elit politik yang menggelar resepsi anaknya, sungguh bukan contoh yang baik bagi negarawan dan figur publik, sedang jika dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, nilai tersebut dapat menghidupi beberapa minggu orang-orang yang memang dianggap pantas menerima bantuan, jika prof mungkin lebih baik untuk modal usaha, menjadi wirausaha berhenti menjadi karyawan. Jadi untuk apa bermegah-megah dalam melukan pernikahan? pamer ? tidak enak dengan tetangga atau sambil menepuk dada dengan bangga berkata "inilah saya", saya katakan itu tidak perlu sama sekali, bukan sesuatu yang penting dan Tuhan tidak menilaimu dengan sebuah jamuan yang berlih-lebihan.
Ini adalah budaya yang harus segera diahiri, jika menganut paham islam, segala sesuatu harunya sesuai dengan kebutuhan, sederhana, tidak berlebih-lebihan, bahkan dalam salah satu ayat dalam Al-Qur'anil karim, Allah tidak menyuai hal yang berlebih-lebihan. Jika menarik poinya, islam mengajarkan menikah hanya perlu calon mempelai, wali, saksi dan ijab Qabul yang kemudian dikabarkan ketetangga agar tidak menimbulkan fitnah.
Kemudian bicara tasyakuran, untuk melakukan banyak sekali bentuknya, mulai dari budaya kenduri atau yang paling sederhana adalah mengirim bingkisan disertai berita gembira. Dengan sistem gotong royong, orang-orang kita suka sekeli dengan sumbang-menyumbang, mulai dari berupa uang atau berupa non uang, bisa berupa beras, sayur mayur, tenaga atau yang lainnya, semua atas dasar iklas.
Jaman sudah berubah, orientasi sudah bergeser pun dengan nilai-nilai lambat laun semakin memudar. Sumbangan berubah seperti arisan, pinjaman dan bentuk lain dengan sistem ketika dulu memberi lima harus mengembalikan lima, syukur lebih. peradaban moderen yang menghilangkan nilai dan hati.
Sebuah catatan kecil, auto-kritik penulis bagi diri sendiri dan masyarakat tentang semakin rancu dan abstraknya sebuah jaman. Mari memulai dari diri sendiri, keluarga kemudian biarkan orang lain berfikir tentang lingkungannya, tentang kebiasannya, apakah ini akan terus berlanjut ataukah dapat menjadi orang-orang asing yang akan kembali asing, sebab hanya orang asing yang akan meluruskan segala sesuatu yang salah. Jelas sekali prof sebagai penulis masih terus belajar dan belajar, terimakasih telah membaca dan mari berdiskusi
Jumat, 30 Juni 2017
Sebuah Nilai Untuk Masa Depan
Duduk diantara rerumputan hijau, berteduh dari gerimisnya sore ini. Melihat ikan yang begitu lahapnya mengais makanan sisa yang prof berikan tadi sebelum menulis tatanan kata ini. Bercengkrama dengan istri lalu mendapatkan ide tulisan.
Masih tentang hidup, dimana usia kita semakin lama semakin bertambah, namun hal yang paling menyebalkan adalah kita belum berbuat apa-apa, seperti kata Abraham Lincoln, “Pada akhirnya, bukanlah tahun-tahun dalam hidup anda yang dihitung. Tetapi hidup anda dalam tahun-tahun andalah yang dihitung”. Bagi prof ini sebuah determinasi yang hebat, beberapa tahun tidak memberikan manfaat apapun bagi sesama, umur sudah hampir kepala tiga, sebentar lagi kepala empat, lima atau bahkan kembali kepada Tuhan, who knows..
Kita adalah bangsa pejuang, dengan semangat melawan kita merdeka, kata tokoh nasional, secara spesifik Rasulullah mengatakan ada sebuah perang yang lebih dasyat, lebih besar dari perang badar, yaitu perang melawan diri sendiri. Dari gabungan kalimat tersebut, manusia adalah mahluk yang super jika bisa melawan diri sendiri, jiwa yang merdeka yang mempu menggerakan dunia, lihat tokoh-tokoh besar, walau rata-rata hidupnya hanya sebentar, mereka mampu menulis sejarah untuk dirinya sendiri dan untuk dunia, nama mereka dikenang dan abadi dalam buku-buku yang menjadi pedoman untuk generasi berikutnya.
Kemudian kita sebagai generasi penerus, belum berbuat apa-apa, berkutat dengan dunianya sendiri, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya yang tidak akan dikenang oleh siapapun kecuali hanya akan menjadi perebutan untuk keluarga yang ditinggalkan. Berbeda sekali dengan para pelaku sejarah, meninggalkan nilai-nilai yang ketika diperebutkan akan menjadi nilai yang terus berkembang untuk kemajuan baradaban.
Kita adalah sebuah bidak pion dalam permainan catur, ketika kita melangkah satu demi satu, mencapai garis lawan, kita bisa menjadi apa yang kita mau. Berproses untuk memberikan nilai tambah, menjadi pemilik nilai, melahirkan peradaban baru, melawan arus budaya masyarakat dengan kenyamanan palsu, melawan, dengan melawan kita menjadi pemenang.
Kita hidup dimana banyak kerancuan paradigma, kerancuan budaya dan kerancuan-kerancuan yang mulai mengakar kuat. Kita adalah kaum intelegensi bertindak berbuat sesuatu, bidang seorang sarjana adalah berfikir dan mencipta yang baru, mereka harus bisa bebas dari arus-arus sosial yang kacau tetapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya apabila keadaan telah mendesak, kaum intelegensi yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua nilai kemanusiaan kata Soe Hoek Gie. Apakah kita sudah melunturkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri menurut tolak ukur soe, atau kita hanya barisan daging-daging berjalan tanpa arah tujuan simbolisasi modernitas dan hegemoni jaman yang semakin kacau?
Ditangan kita tergenggam arah bangsa, ditangan pemuda-pemuda yang berfikir kritis terhadap kekacauan sosial, generasi emas akan lahir, dari sekarang, untuk masa depan dan kesadaran berfikir yang lebih baik.
Maka bijaklah seorang Abraham Lincoln..
Kamis, 29 Juni 2017
comback
Aku terdiam di pojok taman, menatap langit-langit yang baru saja menghujamkan airnya kedaratan. Mungkin ini malam dimana aku banyak merenung banyak hal, mungkin juga ini malam dengan pemikiran yang akan mempengaruhiku dimasa depan. Kita tidak dapat kembali, menyesal dengan masa lalu, yang mampu kita lakukan adalah memperbaiki keadaan.
Tanah-tanah basah, lampu yang menerangi halam belakang rumah mertua indah ini memberi kenyamanan untuk kembali berkata-kata pada tempatnya, yang sudah lama sekali aku rindukan. Menekan tombol-tombol pada keyboard computer milik istriku, sembari sesekali membaca keadaan berita dunia yang semakin rumit saja, membuat kegelisahan sosial yang semakin menjadi. aku terus merenung bagaimana kehidupan ini berjalan begitu cepat, secepat perjalanan pesawat dari ibu kota ketempat asalaku berada. Cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku duduk santai di Hik (angkringan) tempat biasa nongkrong dengan kawan sejawat, sekarang lihatlah, sudah empat tahun hal itu berlalu.
Menulis sama seperti hidup, mengalir dengan tatanan kata dengan penuh makna, memilih prosa agar enak dibaca, memilih alur dan plot. Menulis adalah menandai, seperti prasasti pada batu-batu yang dibuat nenek moyang dulu, agar generasi berikutnya dapat memahami, agar generasi berikutnya melanjutkan proses yang sudah kita lewati.
Suara tetesan air hujan dari ranting-ranting pohon masih menghiasi, serangga dan binatang malam seperti lagu yang tidak pernah habis menghiburku malam ini. Menemani duduk santai dengan asap mengepul dimulutku, tapi nyamuk ini sungguh membuat tanganku harus sesekali beralih dari keybord computer.
Tulisan ini semoga menandai kembali prof yang tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk memulai petualangannya di dunia tulisan web, dengan khas kita pernah belajar bersama dalam kehidupan, membelah pemikiran tentang hal yang tidak pernah orang lain pikirkan, problemantika kehidupan yang sering orang lain jumpai, tentang banyak hal.
selamat datang kembali prof.
Tanah-tanah basah, lampu yang menerangi halam belakang rumah mertua indah ini memberi kenyamanan untuk kembali berkata-kata pada tempatnya, yang sudah lama sekali aku rindukan. Menekan tombol-tombol pada keyboard computer milik istriku, sembari sesekali membaca keadaan berita dunia yang semakin rumit saja, membuat kegelisahan sosial yang semakin menjadi. aku terus merenung bagaimana kehidupan ini berjalan begitu cepat, secepat perjalanan pesawat dari ibu kota ketempat asalaku berada. Cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku duduk santai di Hik (angkringan) tempat biasa nongkrong dengan kawan sejawat, sekarang lihatlah, sudah empat tahun hal itu berlalu.
Menulis sama seperti hidup, mengalir dengan tatanan kata dengan penuh makna, memilih prosa agar enak dibaca, memilih alur dan plot. Menulis adalah menandai, seperti prasasti pada batu-batu yang dibuat nenek moyang dulu, agar generasi berikutnya dapat memahami, agar generasi berikutnya melanjutkan proses yang sudah kita lewati.
Suara tetesan air hujan dari ranting-ranting pohon masih menghiasi, serangga dan binatang malam seperti lagu yang tidak pernah habis menghiburku malam ini. Menemani duduk santai dengan asap mengepul dimulutku, tapi nyamuk ini sungguh membuat tanganku harus sesekali beralih dari keybord computer.
selamat datang kembali prof.
Selasa, 05 Juli 2016
Idul Fitri dan keramahan budaya Lokal
Lebaran Idul Fitri tinggal menghirung hari, dimana seorang muslim yang menjalankan puasa sebulan penuh,berjuang, sebuah peperangan yang lebih besar dari apapun menurut Rasulullah, yakni melawan hawanafsu, maka setelah itu tibalah mereka menyambut hari yang disebut hari kemenangan. Secara bahasa, Idul fitri adalah salah satu hari besar agama islam, setelah hari raya idul adha dan hari jumat. Biasanya, hari raya ini diawali dengan budaya "padusan" (mandi besar dalam bahasa jawa) yang dimaksudkan untuk mensucikan dan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk atau dosa dimasa lalu, harapannya menjadi sosok manusia baru seperti bayi yang masih suci.
Indonesia dengan jumlah pemeluk agama islam terbesar, mempunyai caranya sendiri untuk merayakan hari besar ini. Seperti menyiapkan kue yang bermacam-macam menurut kearifan budaya, merias dan membersihkan semua isi rumah, baju baru sampai mudik serta kebiasaan kupatan (hari raya ketupat) pada hari ke-4 lebaran.
Indonesia dengan jumlah pemeluk agama islam terbesar, mempunyai caranya sendiri untuk merayakan hari besar ini. Seperti menyiapkan kue yang bermacam-macam menurut kearifan budaya, merias dan membersihkan semua isi rumah, baju baru sampai mudik serta kebiasaan kupatan (hari raya ketupat) pada hari ke-4 lebaran.
Minggu, 19 April 2015
Korpri Lusuh

Sebuah baju tertengger di atas jemuran, kemudian tersimpan rapi di gantungan lemari. Berjajar dan berhimpit satu dengan yang lain. Pada awalnya mereka sama, lalu diberi warna dan corak, sehingga terlihat berbeda, dan pada ahirnya akan sangat terlihat berbeda seberapa bermanfaat baju-baju tersebut untuk orang lain.
Sebuah prolog dari masa lalu, ketika penulis merasakan arti sebuah "baju". Ketika tiga tahun lalu diangkat menjadi tenaga kerja harian lepas penyuluh pertanian, baju kepegawaian melekat erat dalam tubuh kecil mungil ini. Tiga tahun pula, segala proses pengabdian kepada masyarakat penulis lakukan hanya untuk kepuasan hati. Karna keberhasilan tidak dapat diukur oleh nilai kuantitas.
Dalam beberapa tahun terakhir, penulis mengerti satu hal, bahwa Penyuluh adalah pekerjaan sosial, yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memilih untuk mengabdi, bukan untuk orang-orang yang berorientasi materi. Karna kerja meraka seperti dokter, ketika dibutuhkan mereka harus siap (24 Jam). Jam kerja Penyuluh adalah ketika petani membutuhkan bantuan, bukan seperti pegawai (kantoran) berangkat pagi pulang malam dan sabtu minggu datang. Ini disebabkan, karna penyuluh merupakan pembawa perubahan berupa inovasi-inovasi serta partner kerja petani. Penyuluh harus dapat membaur bersama rekan kerja dilapangan, sehingga sekat-sekat budaya, pengetahuan, jabatan, informasi harus sebesar mungkin dihilangkan. Sebab jika hal tersebut masih ada, akan menjadi dinding pemisah antar rekan kerja. Namun tidak jarang orang-orang yang bertugas seperti saya memilih tidur, duduk-duduk sambil ngopi di kantor, sesekali meraka menyentil petani dari pada membawa perubahan besar untuk kemajuan pertanian nasional, dan parahnya lagi hal tersebut merupakan mental-mental struktural yang hidup dalam lingkaran setan.
Jika dilihat dari sudut pandang global, hal tersebut tidak hanya terjadi dalam satu satuan dinas saja, namun hampir seluruh pemakai baju suci korpri tidak mampu membawa diri dalam lingkungan taman surga semu. Pelayan-pelayan masyarakat ini justru seperti sipir penjara, yang memang harus membina para tahanan, atau jika meminjam istilah pak Basuki (Ahok) ini lah preman yang mempunyai Sk. Penulis Fikir, tulisan ini mewakili masyarakat keseluruhan, dimana pada tempat-tempat pelayanan pemerintah masyarakat tidak diperlakukan dengan baik, bahkan ada suatu anekdot umum didalam birokrat "jika bisa diperlama, kenapa dipercepat". Senyum kecut ini mengartikan bahwa, ini negara atau penajajah.
Sekarang penulis mengajak berimajinasi, berangan-angan betapa indahnya jika semua aparatur atau stakeHolder mempunyai kesadaran dan disiplin posisi. Semua kebutuhan masyarakat dapat dilayani dengan cepat tanpa harus mengluarkan selembar kertas yang dicari dari cucuran keringat, seseorang tua renta yang memakai baju lusuh mendapat salam senyum sapa bak pejabat dengan emas berliannya di kantor-kantor negara. Pajak negara digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan negara, membangun insfrastruktur sehingga perekonomian dapat lebih berkembang. SDM sebagai penggerak roda negara dapat mengeluarkan terobasan serta inovasi yang mampu merubah peradaban yang lebih baik. Setiap orang membawa angin segar dengan ide-ide berliannya. Karena orang-orang didalamnya bukan diambil dari seberapa tebusan untuk menjadi pegawai, tapi memang mereka berkopeten dibidangnya, sekali lagi, bukan anak pejabat dan bukan yang banyak uang, apa lagi hasil dari penjualan sawah ladang agar menjadi Pegawai Negri Sipil, tapi memang orang-orang ini mampu dan mau. Maka terlihatlah right man in the right pleace. ini masyarakat yang makmur.
Jika dilihat dari sudut pandang global, hal tersebut tidak hanya terjadi dalam satu satuan dinas saja, namun hampir seluruh pemakai baju suci korpri tidak mampu membawa diri dalam lingkungan taman surga semu. Pelayan-pelayan masyarakat ini justru seperti sipir penjara, yang memang harus membina para tahanan, atau jika meminjam istilah pak Basuki (Ahok) ini lah preman yang mempunyai Sk. Penulis Fikir, tulisan ini mewakili masyarakat keseluruhan, dimana pada tempat-tempat pelayanan pemerintah masyarakat tidak diperlakukan dengan baik, bahkan ada suatu anekdot umum didalam birokrat "jika bisa diperlama, kenapa dipercepat". Senyum kecut ini mengartikan bahwa, ini negara atau penajajah.
Sekarang penulis mengajak berimajinasi, berangan-angan betapa indahnya jika semua aparatur atau stakeHolder mempunyai kesadaran dan disiplin posisi. Semua kebutuhan masyarakat dapat dilayani dengan cepat tanpa harus mengluarkan selembar kertas yang dicari dari cucuran keringat, seseorang tua renta yang memakai baju lusuh mendapat salam senyum sapa bak pejabat dengan emas berliannya di kantor-kantor negara. Pajak negara digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan negara, membangun insfrastruktur sehingga perekonomian dapat lebih berkembang. SDM sebagai penggerak roda negara dapat mengeluarkan terobasan serta inovasi yang mampu merubah peradaban yang lebih baik. Setiap orang membawa angin segar dengan ide-ide berliannya. Karena orang-orang didalamnya bukan diambil dari seberapa tebusan untuk menjadi pegawai, tapi memang mereka berkopeten dibidangnya, sekali lagi, bukan anak pejabat dan bukan yang banyak uang, apa lagi hasil dari penjualan sawah ladang agar menjadi Pegawai Negri Sipil, tapi memang orang-orang ini mampu dan mau. Maka terlihatlah right man in the right pleace. ini masyarakat yang makmur.
dan inilah arti dari korpri lusuh.
baju teteplah baju, dari bahan yang sama dan akan berujung pada tempat yang sama pula
meraka akan terlihat berbeda jika mempunyai selembar arti untuk membawa perubahan, sekecil apapun itu
namun jika tidak, mereka pun sama seperti sampah dan kain pel.
maka berilah arti pada apa yang kau kenakan.
Maka pesan penulis, siapapun pembaca dan dimanapun itu, setiap seragam kerja mempunyai tanggung jawab besar di pundak pemakai, maka resapi itu dengan hati dan lakukan pekerjaan pembaca dengan penuh rasa tanggung jawab pula.
Minggu, 22 Februari 2015
cinta is love
cinta itu rasa gelisah yang datang dari hati, lalu memerintahkan akal untuk berbuat lebih dari yang biasanya. keberadaanya seringkali d tunggangi oleh hasrat manusiawi yang tidak jarang mencidrai nilai-nilai cinta itu sendiri. ketika rasa gelisah itu datang, detak jantung mulai berdentang, memberikan gerakan yang tanpa disadari, lupa diri lalu membawa pada hal-hal yang menggelikan. aku membawa cinta kemanapun aku pergi, saat membaca, saat bertatap dengan seorang wanita renta, saat bersama dengan cinta-cinta yang lain.
cinta menghubungkan antara satu orang dengan orang yang lain, membawa mereka pada aurora yang terindah. seperti taman yang menghamburkan wewangian disetiap sudutnya, tidak memberikan celah pada kebencian untuk hinggap. buat apa cinta ditunggu, apalagi dicari, karena cinta ada dimana-mana. dia berada dihati mu yang paling datang, walau sering engkau tutupi. disana mereka tumbuh atau menjadi kerdil. namun disetiap nafas yang engkau rasakan, cinta tetap ada didalam hati yang terdalam.saat aku menulis ini, cinta tumbuh didalam hati, menghubungkan aku dan istriku, sebagai raja dan ratu kehidupan ini.
Bab baru dimulai, menikmati setiap detik dengan perjuangan yang tak berujung, setiap frekuensi cahaya yang aku rasakan, setiap peluh yang tercucur, adalah buah dari cinta kami. seakan dunia kuserahkan untuk ratu yang setiap malam menemani malam panjang ku. lelah adalah sudut gelap yang tidak akan mungkin terasa, karena cinta mengisi sudut-sudut gelap itu. keagungan cinta inilah yang menghantarkan pada semangat yang berapi, meyembuhkan luka dan memberi sandaran pada kelemahan hati.
kadang, teriakan-teriakan mengatasnamakan seperti butiran nyinyir ditelinga, seperti raungan rusa yang terkena jeratannya sendiri. rasa patah hati, keputus asaan adalah lagu kekalahan diri. karena kebencian menjerat hati, memberi ruang lebih pada kebencian. dan cinta menjadi kerdil dan layu.
pergilah ke bandara, duduk dan lihatlah, kau akan merasakan cinta disekeliling mu. tatapan mata, senyuman, pelukan-pelukan dan tangis bahagia, cinta mengisi ruang-ruang gelap diantara meraka, memberikan keindahan yang tidak ternilai.
maka, bawalah cinta dimanapun engkau berada, karena cinta adalah ketulusan hati untuk berbagi, memberi dan menerima.
aku datang untuk cinta, memberikan ketulusan kepada setiap senyuman
terimakasih cinta, karena engaku
kini aku ada
R.I.P pergerakan mahasiswa

“siapa saja yang ingin membubarkan HMI, langkahi mayat saya terlebih dahulu.” Jend. A.Yani
sebuah kalimat berani
dari jendral yg tidak takut mati
penyataan itu bukan puisi pribadi
namun intuisi seorang infantri
perjuangan pergerakan mahasiswa
adalah secercah titik cahaya
menjadi simbol dari rakyat, yang melawan penguasa
keringat, memar, peluru hingga mati rasa
ini bukan sekedar cerita tanpa makna
tapi refleksi untuk mahasiswa yang tumpul dan tak berdaya
karena sekarang mereka lebih senang hidup di goa
pakai sarung dan bersolek di depan kaca
dari pada turun ke jalan membawa bendera
atau berkarya lewat tetesan tinta
mungkin sudah waktunya mengganti mars mahasiswa
yang di sebut pewaris peradaban
yang telah menggoreskan
sebuah catatan kebanggan
yang katanya dulu merindukan kejayaan
lalu turun kejalan
sekarang hanya tinggal buih dalam lautan
mana sumpah mahasiswa mu
yg dulu di teriakan lewat tangis dan pilu
sesekali tongkat aparat mendarat linu
sampai kata merdeka terlihat sayu
kami prihatin ..
agent of change hanya pembawa tongsis kliling
adalah secercah titik cahaya
menjadi simbol dari rakyat, yang melawan penguasa
keringat, memar, peluru hingga mati rasa
ini bukan sekedar cerita tanpa makna
tapi refleksi untuk mahasiswa yang tumpul dan tak berdaya
karena sekarang mereka lebih senang hidup di goa
pakai sarung dan bersolek di depan kaca
dari pada turun ke jalan membawa bendera
atau berkarya lewat tetesan tinta
mungkin sudah waktunya mengganti mars mahasiswayang di sebut pewaris peradaban
yang telah menggoreskan
sebuah catatan kebanggan
yang katanya dulu merindukan kejayaan
lalu turun kejalan
sekarang hanya tinggal buih dalam lautan
mana sumpah mahasiswa mu
yg dulu di teriakan lewat tangis dan pilu
sesekali tongkat aparat mendarat linu
sampai kata merdeka terlihat sayu
kami prihatin ..
agent of change hanya pembawa tongsis kliling
thank's to
assalaamu'alaikum wr wb
Segala ucapan syukur penulisucapakan kepada Allah SWT, karena rahmat dan kasih sayangNya lah, setiap kata demi kata dapat tercurahkan hingga menjadi rentetetan kalimat yang bermakna, menjadi miniatur hidup yang dapat bermanfaat bagi kita semua.aamiin
Kedua, tidak lupa pula, penulis mengajak pembaca yang budiman bersholawat atas nabi besar, neabi penutup jaman, sauri tauladan, yang mengajari prinsip hidup tentang idealisme, beliau adalah Rasulullah Muhammad saw.
Sudah sekian lama blog ini tidur dalam kehangatan waktu yang kian memburu. Kemudian bangun dalam kegamangan, mungkin dulu memang sudah mandul dalam berwacana, atau memang kekeliruan sudah berwajah kebaikan, sehingga blogger ramaisme menjadi berlumut dan tenggelam. Namun kini alam seakan membangunkan penulis untuk menghunuskan pedang pada topeng-topeng semu. Membunuh kepalsuan yang kiam menjamur, membuka tabir surya agar sudut yang terdalam dapat kita lihat bersama. Maka dalam kesempatan kali ini, ijinkan penulis memberi ucapan terima kasih kepada ;
1. Alam yang semakin rusak
2. Kepalsuan yang menjamur
3. Keadaan sosial yang semakin jauh dari norma dan kedinamisan
4. kesadaran berfikir dan berbuat untuk sekitar dan bangsa
Inilah ramaisme, sebuah catatan yang lahir dari kegamangan sosial
ikuti simak dan mari berdiskusi
saya prof dari dunia ramaisme siap membantu pembaca agar semakin tidak jelas
Segala ucapan syukur penulisucapakan kepada Allah SWT, karena rahmat dan kasih sayangNya lah, setiap kata demi kata dapat tercurahkan hingga menjadi rentetetan kalimat yang bermakna, menjadi miniatur hidup yang dapat bermanfaat bagi kita semua.aamiin
Kedua, tidak lupa pula, penulis mengajak pembaca yang budiman bersholawat atas nabi besar, neabi penutup jaman, sauri tauladan, yang mengajari prinsip hidup tentang idealisme, beliau adalah Rasulullah Muhammad saw.
Sudah sekian lama blog ini tidur dalam kehangatan waktu yang kian memburu. Kemudian bangun dalam kegamangan, mungkin dulu memang sudah mandul dalam berwacana, atau memang kekeliruan sudah berwajah kebaikan, sehingga blogger ramaisme menjadi berlumut dan tenggelam. Namun kini alam seakan membangunkan penulis untuk menghunuskan pedang pada topeng-topeng semu. Membunuh kepalsuan yang kiam menjamur, membuka tabir surya agar sudut yang terdalam dapat kita lihat bersama. Maka dalam kesempatan kali ini, ijinkan penulis memberi ucapan terima kasih kepada ;
1. Alam yang semakin rusak
2. Kepalsuan yang menjamur
3. Keadaan sosial yang semakin jauh dari norma dan kedinamisan
4. kesadaran berfikir dan berbuat untuk sekitar dan bangsa
Inilah ramaisme, sebuah catatan yang lahir dari kegamangan sosialikuti simak dan mari berdiskusi
saya prof dari dunia ramaisme siap membantu pembaca agar semakin tidak jelas
Minggu, 27 April 2014
Dua Perkara : Benar dan Salah
Assalaamu'alaikum wr wbLama rasanya tidak menyapa huruf-huruf di keybord komputer ini, walau laptop pinjamandari istri :D, namun kerinduan untuk bersendagurau dengan "kata-kata" sudah begitu akut rasanya, seperti ratusan, bahkan ribuan tahun.
Kerinduan ini semakin menjadi tatkala dunia menggenggam logika yang dulu menari indah di petikan huruf. Analogi seperti fanatisme yg mengurung pemikiran, memenjarakannya lalu mati tersiksa, penulis rasa kita bukan kaum yang memenjarakan sesuatu, tapi membebaskan sesuatu.
Perjalanan hidup tidak lepas dari istilah "bebas", membebaskan laju pikiran, hati, gerak tubuh dan berbagai tujuan hidup, mimpi yang akan diraih. Membebaskan pikiran berarti menerima segala macam bentuk pengatahuan sebagai bahan mentah yang nantinya akan kita intergralkan bersama pengetahuan yang lain sebagai dasar kebenaran.
Kemudian, apakah kebenaran yang sudah kita yakini selama ini adalah kebenaran hakiki? kebenaran yang sudah tidak dapat lagi ragukan seperti kebenaran tentang ke-Esa-an Tuhan?
Penulis rasa tidak. Sebab, kebenaran asumsi, opini manusia yang kemudian berevolusi menjadi teori merupakan kebenaran bersifat relatife. Artinya, kebenaran-kebenaran yang kita yakini sekarang merupakan kebenaran sementara. Contoh kasus seperti teori darwin tentang teori evolusi yang pada akhirnya runtuh oleh Harun Yahya.
Kebenaran manusia adalah kebenaran subjektif
dan definisi kebenaran adalah berbicara tentang batasan pengetahuan manusia tentang sesuatu.
Sering kali, kita melihat keributan disana-sini, dari ranah besar sampai skup yang paling kecil. Dari perang dunia yang menggap itu adalah bentuk penyatuan dunia untuk perdamaian, klaim-klaim batas wilayah negara, Demonstrasi, keributan sekolah sampai ke rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kasus yang masih berkutat pada benar dan salah, tentang etika yang tidak berlaku umum, ujian sekolah, ilmu pengetahuan dan segala macam keributan. Hal-hal semacam itu bersumber pada satu perkara, yakni perebutan kebenaran yang sebenarnya hanya berbeda cara kita memadang segala bentuk pergerakan sosial. Siapa yang benar dan siapa yang salah tervonis melalui seberapa banyak sekelompok orang mengatakan hal tersebut merupakan suatu kebenaran, yang salah akan kehilangan haknya (katanya). Istilah Ego kemudian muncul untuk menamai seseorang yang memenjarakan kebenaran pada dirinya sendiri. Seperti seorang Tuhan yang kebenarannya harus di akui semua pihak. Dan si kalah menjadi pengikut dengan sebutan Lemah (losser). Kata kalah menjadi neraka untuk beberapa pihak, namun tidak bagi penulis, mereka tidak sadar, bahwa kebenaran didapat dari ribuan kali kesalahan, jika tidak percaya tanya James Whatt :D
Penyebab utamanya adalah terletakpadi hati seseorang yang sombong dengan pengetahuan dangkalnya. Penyakit hati melanda orang bodoh.
Kebodohan menyebabkan gunung terlihat begitu kecil.
Dunia ini tidak sesempit itu kawan, perdebatan menghasilkan kalah dan menang, namun diskusi menghasilkan kebenaran. Perdebatan mempunyai tujuan menjatuhkan dan mencari pembenaran, tapi tidak dengan diskusi. Win-win solution tidak akan menjadi pilihan ketika terjadi kesenjangan yang melahirkan inferior dan superior. Kesadaran bahwa kita mahluk sosialah yang nanti menjadi jembatan terjalinnya komunikasi antara dua kelompok atau lebih.
Mari lupakan kebenaran dan kesalahan, sebab istilah tersebut merupakan proses yang terus berputar. Bebaskan pikiran dan hati untuk menerima dan mengerti pendapat orang lain, berkomunikasi dengan baik akan menjadi menganut ramaisme yang baik pula
Salam super :D
Jumat, 03 Januari 2014
Tahun baru : target baru
Hari ini matahari terlihat seperti biasa, walau angka di kalender nampak berbeda pada tahun, selamat tahun baru masehi saudaraku. Semoga tahun ini, kita dapat memberi hal yang lebih kepada dunia, fokus yang leih, harapan yang lebih, keringat yang ebih, kejujuran yang lebih, ketaatan yang lebih dan kebaikan-kebaikan yang lebih.
Biasanya, tahun baru adalah awal untuk segalanya, harapan, doa, cita-cita, keinginan dan tujuan-tujuan yang memebawa kita pada hal yang belum pernah kita rasakan. Sebagian besar orang, berkumpul pada satu tempat yang lapang, menunggu tengah malam untuk merayakan tutup tahun, dan menyambut awal matahari yang baru.
Lalu, jika setiap orang mempunyai harapan, apa harapan prof pada tahun ini..? :D
pada buku besar bangsa rama kuno bab kehidupan dan berhidup, tahun baru inca biasanya ditandai dengan adanya evaluasi dan tujuan-tujuan baru berdasarkan hasil evaluasi tahunan. Hal ini menambah kedewasaan masyarakat pada angsa rama kuno, dimana setiap tahun selalu ada kemajuan dari tahun sebelmnya, berdasarkan target-target yang dimusayawarahkan bersama.
Lalu, dimana kembang api dan pestanya.., this not my cultur. Hukum adat mengatur kearifan lokal, menjaga dan menstransfernya kapada generasi seterusnya. Nilai-nilai yang menjadi dasar untuk bersikap. kebiasaan hedonis, matrealis, apatis dan profokatif bukanlah nilai yang harus ditanamkan. ect
Biasanya, tahun baru adalah awal untuk segalanya, harapan, doa, cita-cita, keinginan dan tujuan-tujuan yang memebawa kita pada hal yang belum pernah kita rasakan. Sebagian besar orang, berkumpul pada satu tempat yang lapang, menunggu tengah malam untuk merayakan tutup tahun, dan menyambut awal matahari yang baru.
Lalu, jika setiap orang mempunyai harapan, apa harapan prof pada tahun ini..? :D
pada buku besar bangsa rama kuno bab kehidupan dan berhidup, tahun baru inca biasanya ditandai dengan adanya evaluasi dan tujuan-tujuan baru berdasarkan hasil evaluasi tahunan. Hal ini menambah kedewasaan masyarakat pada angsa rama kuno, dimana setiap tahun selalu ada kemajuan dari tahun sebelmnya, berdasarkan target-target yang dimusayawarahkan bersama.
Lalu, dimana kembang api dan pestanya.., this not my cultur. Hukum adat mengatur kearifan lokal, menjaga dan menstransfernya kapada generasi seterusnya. Nilai-nilai yang menjadi dasar untuk bersikap. kebiasaan hedonis, matrealis, apatis dan profokatif bukanlah nilai yang harus ditanamkan. ect
Minggu, 15 Desember 2013
Pra Wed
Jalanan mulai ramai dengan hiruk pikuk kelakar anak-anak, mencari jawaban atas apa yang di cari
entah sampai mana mereka menemukan matahari yang menunjukan jalan. Namun sekarang, hidup ku baru dimulai
Pagi mulaidatang, entahdari mana mereka berdatangan, yang jelas
entah sampai mana mereka menemukan matahari yang menunjukan jalan. Namun sekarang, hidup ku baru dimulai
Pagi mulaidatang, entahdari mana mereka berdatangan, yang jelas
Rabu, 20 November 2013
b
Sebatang pohon di teras rumah, rumbun daunya mengukuti gerak ranting berliku. Hitam kekar batang yang menopang, selaras dengan akar pohon yang mencengkram tanah dalam pot. Penghias rumah beranyam bambu, menarik untuk dilihat, miris untuk dirasa. Pohon yang tidak pernah tumbuh besar dan tinggi. Memang berbentuk mungil atau memang sengaja di bentuk agar tidak pernah lari dari tangan pemiliknya.
Langganan:
Postingan (Atom)




















.jpg)