Home

Senin, 02 Maret 2020

Sore bersama kopi

Negara ini terlalu lama dicengkram oleh ketakutan dan keterbatasan.  Dibangun oleh kekuatan-kekuatan kekuasaan,  bukan kemanusiaan.
Manusia bangsa ini,  sudah terlampau lama menahan,  melihat kediktatoran penguasa yg kebal terhadap aturan.

"sepertinya enak jika jadi orang gedean,  tak perlu ada kewajiban,  hanya hak dan hak yang ia terima"

Sampai sekat-sekat itu roboh oleh gelombang pemuda, hancur oleh gumam yang terus berkumandang,  hancur oleh kumpulan umpatan. Gelombang itu tak pernah berhenti mengolok-olok masa lalu yg ahirnya tanpa sadar mereka menjadi masa lalu.
Gelombang itu terus berdampak sistemik,  menciptakan oligarki-oligarki di setiap sudut.

Rubuhnya sekat yg dulu berdiri kokoh,  hanya untuk menciptakan remahan sekat-sekat baru. Melanggengkan monarki didalam demokrasi palsu.


Hidup dinegara ini,  jika tak punya lidah panjang,  maka akan termakan jaman.
Jika tak punya kantong tebal,  akan menjadi gundik para culas berkedok pahlawan.

Tapi ah sudahlaah
Aku masih memilih menepi,  menikmati kopi dan mencium harum bunga cengkeh dihalaman belakang, melihat guguran bunga angsana yg seolah menari di penghujung  haru yg syahdu,  aku seolah menciptakan dunia baru tanpan kebisingan jaman yg semakin edan.

Pringsewu,  23 januari 2020

Kamis, 15 November 2018

twins poem


Ketika semua perubahan itu terjadi
dan kita masih berdiam diri
mematung bagai tonggak berdiri
disaat itulah kita baru menyadari
bahwa waktu tidak pernah berhenti berlari

ada kalanya kita tenggelam dalam angan menunggu
dmana kita terbuai diantara keindahan semu
jatuh dan meronta pada keadaan yg tidak bisa menunggu
Sebab,  sejatinya kita bergulat dengan waktu
kita pernah melakukan hal percuma
bersanding tangis dan tawa bahagia
kita adalah pion yg terbentuk dari sebuah anekdot masa
terjebak dalam lingkarannya
Namun proses itu teteplah bagian dari kita
Bahwa kadang melakukan hal yg percuma bukan sia-sia
lawan yg paling berat adalah diri kita
dan kawan paling baik adalah musuh kita
Maka berkawanlah pada keduanya
sebab,  mereka yg menjadikan diri kita ada
Pringsewu
rama aulia
2018



Selasa, 17 April 2018

Tetaplah Menulis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
― Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

Banyak hari tebuang dengan kesibukan dan segala proses didalamnya, kadang saya berfikir tentang esensi apa yang saya lakukan hari ini. Seperti Blog ini, tulisan-tulisan ini akan saya tinggalkan untuk generasi ramaisme dimasa depan. Mungkin sepuluh, dua puluh atau bahkan berpuluh-puluh tahun lagi, tulisan ini akan memberikan sedikit manfaat, atau bahkan sudah di anggap usang. Saya tidak peduli, dengan ego menulis saya, saya tak berharap apapun untuk semua tulisan saya. 

Dalam bagian terkecil,  mungkin keadaan saya seperti alm bj habibie,  saya harus terus menulis,  karena dijaman ini,  gagasan-gagasan saya di anggap terlalu imajiner. Maka bagi saya,  dengan menulis gagasan itu,  saya lebih bisa menjadi tenang.

Saya menulis, suka menulis, apapun yang terjadi, menulis adalah bagian dari perjalanan hidup saya.

Hari ini, setelah tulisan terahir, ahirnya saya kembali menemukan keberanian untuk membuka Blog usang ini. Diantara suara adzan yang akab dari masjid-masjid lingkungan rumah, jari-jemari ini terus menekan tombol-tombol keyboard, dan jelas saya tidak tahu apa yang akan saya tulis ini.

Malam ini, bukan malam yang spesial, malam masih sama seperti malam-malam yang lainya, panasnya kota masih juga sama, begitu juga dengan laptop pinjaman dari istri, bedanya ada didalam sini, keinginan yang kembali untuk membuka tumpukan-tumpukan tulisan ini.

Tulisan adalah skrip ideologis yang terukir,  orang-orang akan mengenal siapa dirimu dan seberapa kompleks pikiran mu lewat tulisan-tulisan yang kita goreskan.  Kita mengenal maslow dengan teori kebutuhannya,  enstein dengan e=mc2,  plato,  scorstes atau filsuf - filsuf dan pemikir maju dijamannya, mereka menulis untuk pengetahuan dijamannya serta pijakan untuk peradaban untuk generasi setelahnya.

Dengan menulis,  peradaban tidak perlu memgulang hal yang sama, generasi setelahnya melanjutkan apa yang sudah dumulai para pendahulu mereka.  Seperti apa yang sudah di mulai newton soal grafitasi dilanjutkan oleh penemu-penemu generasi setelahnya,  pengetahuan selalu menumui babak baru,  tidak perlu belajar lagi dari nol.

Setelah menulis selesai,  masalah berikutnya adalah minat baca,  seperti pada saat sekarang ini,  dimulai dari 10 atau 15 tahun yang lalu ketika jaman bertransisi ke era digital,  semua serba instan,  ketika minat baca rendah,  jutaan pengetahuan yang terbelenggu dalam buku-buku tetap akan menjadi tulisan-tulisan usang,  tidak akan berarti apa-apa.  Pengetahuan tetap berbentuk *.rar, maka takan berarti apa-apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita. Kebendaraharaan kata dan literasi adalah hal yg fundamental,  tanpa membaca anda tak akan bisa menulis.

Apapun yang akan tetjadi,  dihargai atau tidak,  dimuat dan diterbitkan atau tidak,  penulis akan tetap menulis.  Menulis adalah kebutuhan bagi seorang penulis, tidak perlu alasan untuk mencintai,  begitu juga dengan menulis.

Tetaplah menulis,  sebab dengan menulis,  engkau akan tetap hidup. 

Rabu, 07 Februari 2018

Batok Pring

Batok Pring, 
begitu terdengar nama khas jawa tersebut, kita tentu bertanya-tanya, apa itu batok dan pring, apakah hanya sebuah dua nama benda yang memang secara fisik dan fungsinya berbeda atau memang ada sebuah makna dibalik itu semua.

Batok Pring adalah sebuah Cafe dan foodcourt di sebuah tempat kabupaten Pringsewu, dengan jargon "satu tempat ribuan menu", Batok Pring memberikan keunggulan menu-menu berfariasi kepada pengunjung, rasa dan tempat yang nyaman. Disana memungkinkan pengunjung untuk mengadakan acara-acara seperti rapat, gathering, seminar, pelatihan kreativitas atau yang lainnya.

Batok Pring sendiri sebuah kepanjangan dari Basis Tongkrongan Pringsewu, selain membawa revolusi sebuah tempat kuliner yang sudah ada, konsep-konsep back to nature juga dihadirkan disana serta free wifi dengan kecepatan maksimum mendukung proses belajar dan game online.

Banyak pengunjung yang sudah datang kesini, seperti pada malam Grand Opening, Wakapolres sempat menyumpang lagunya, silahkan updatean di ig mereka. Kemudian acara-acara sekaliber KPU, Cheff hotel berbintang juga menyempatkan diri hadir untuk menyicipi dan memberikan masukan tentang menu-menu dan kualitas rasa makanan. Untuk anda yang menyukuai kuliner dengan tempat yang luar biasa, saya menyerankan untuk mencobamenikmati syahdunya malam di Batok Pring, dengan membuka acount fb batok Pring di https://goo.gl/1VGcXS 

Bagi saya, tempat seperti Batok Pring memang sudah dibutuhkan di kabupaten sekelas pringsewu yang notabane sudah menyatakan diri sebagai kota kuliner. Selain itu pringsewu secara geografis ekonomi adalah sebagai penyangga ekonomi-ekonomi daerah tertinggal lingkup Pringsewu. Sehingga akan banayak orang yang hilir mudik dengan pringsewu sebagi central.

Rabu, 19 Juli 2017

etika kepemimpinan, studi kasus pembangunan pasar

Cerita ini hanya Fiktif, kesamaan latar belakang, lokasi serta nama bukan karena Kesengajaan penulis :p

Akhir-akhir ini, didesa saya sedang ramai dengan pembangunan pasar tradisional yang rencananya akan menggunakan Apbn senilai 6 (Enam) Milyard rupiah. Akan sangat megah segali jika dana tersebut digunakan dengan baik, dan desa kami mungkin menjadi Pasar paling mentereng sekabupaten.

Hal-hal baik akan timbul, tertatanya lapak-lapak pedagang, kebersihan, teknologi, tata kelola pasar, pasar tradisional modern pertama, ya sekali lagi.., tidak hanya itu saja, hal tersebut juga di ikuti seperti naiknya harga tanah sekitarnya, termasuk tanah orang tua saya mungkin, kemudian desa kami akan lebih dikenal dengan bantuan tersebut, President sudah berusaha dengan baik terkait dengan programnya dulu.

Selasa, 11 Juli 2017

Lupa itu Nikmat

Selamat datang pagi, mebawa udara segar masuk kedalam tubuh, membawa kesejekuan serta harapan-harapan baru untuk diperjuangkan kembali, pagi adalah titik awal yang baru, dimana kita bangkit dari sebuah rencana untuk segera mengeksekusinya. Seperti tulisan-tulisan ini, tidak pernah berhenti untuk mengajak berpikir dan berhayal sejenak.

Setiap orang, balita, anak-anak, remaja ataupun dewasa, lupa adalah salah satu sifat alamiah manusia. Prof tidak tahu sejak kapan lupa menjadi kata sifat, mungkin karena lupa identik dengan kata sambungan "sifat" jadilah "sifat pelupa", mungkin seseorang disana mengkelompokan lupa menjadi kata benda atau yang lainya, tapi itu bukan sesuatu hal yang penting untuk dibahas sekarang, hanya untuk menambah agar tulisan ini terkesan banyak pada paragraf pertama, padahal bukanlah hal yang penting sama sekali, tapi terimakasih untuk terus membaca.

Dalam perspektif agama, banyak literatur yang mengatakan bahwa sifat lupa ini dikarenakan beberapa sebab, salah satunya yang paling banyak keluar di mesin pencari adalah karena terlalu banyak melakukan maksiat. oke itu mungkin sebagian kebenaran yang kecil jika dianalisis, namun kebenaran harus dibuktikan dengan sebuah penelitian-penilitian, atau hasil penelitian seperti jurnal ilmiah, tesis atau beberapa diskusi ilmiah didalam forum-forum. Ini bukan alibi atau sekedar pledoi saya karena saya seorang pelupa berat, tapi mari kita berobjektif dalam segala hal. saya kesal sekali jika lupa meletakan kacama mata, jika indra penciuman berkerja dengan baik, mungkin akan lebih mudah mencari kecamata dengan minus berapapun.

Jumat, 07 Juli 2017

Mahalnya Harga Pernikahan

Idul fitri baru saja kita lewati, dengan berbagai macam pernak-perniknya, dengan segala kesibukan dan kemacetan lalu-lintas kota. Jalanan seolah mendadak menjadi parkiran terpanjang dan terhebat yang pernah ada, dari arus mudik kemudian seremonial silahturahim yang menjadi budaya orang-orang kita, sampai yang terahir adalah perjalanan arus balik. Semua berlomba ingin secepatnya sampai ketujuan, rasa lelah yang tidak terhitung jumlahnya, lenyap seketika. Sekarang hanya menyisakan sisa-sisa dari sebuah hari besar umat, dan menyusul persiapan-persiapan yang lain.

Minggu-minggu setelah perayaan itu, undangan pernikahan mulai berdatangan, momen libur panjang yang sangat sepesial, keluarga, kerabat, kawan sejawat berdatangan, moment lebaran, semua orang pasti pulang ke kampung halaman dengan harapan yang sagat besar. Disaat itulah beberapa membaca peluang untuk merayakan hari yang sakral, upacara pernikahan. Dengan segala proses yang dilalui, kenakalan remaja, cinta monyet dan pembicaraan jangka panjang seolah semua itu akan terlewati dengan damai nan indah. Persiapan dilakukan, semua peralatan dibeli dan disewa, kerabat serta tetangga sibuk menyiapkan, dengan harapan acara akan dapat sepenuhnya berjalan lanjar, tanpa mengurangai kewibawaan sang punya hajat. Semua berharap canda-tawa dan tangis haru akan ada disana.

Namun, dibalik itu semua, ada sebuah lubang besar yang menganga, ada sebuah ironi membawa serta konsekuensi. Hal itu adalah persepsi pernikahan, budaya yang membawa kesakralan menjadi pesta-pesta dengan bamyak keluh, gunjing, peluh, kemubaziran dan topeng-topeng bahagia. Resepsi yang "harus" dilakukan menyisakan hutang dimana-mana jika isi kotak tidak berimbang dengan pengeluaran pesta, mungkin ini sebuah bisnis baru. Resepsi menyisakan gunjing jika semua persiapan tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat atau ekpektasi dari yang membantu penyiapan resepsi, tentang dagingnya yang sedikit, tentang rokoknya, tentang pelitnya tuan rumah, tentang banyak hal.
 Dan resepsi pernikahan akan menyisakan kemubaziran karena banyak hal yang terbuang secara sia-sia, berapa banyak nasi, lauk-pauk, sayuran, roti, air minum dan segalanya setelah pesta selesai, dengan dalih tasyakuran orang-orang rela merogoh kocek dengan nominal fantastis hingga menjual sebagian dari harta mereka, dengan beberapa kebiasaan adat istiadat yang berbeda disetiap daerah, Provinsi Lampung misalnya, harus melakukan hal tersebut selama tujuh hari tujuh malam (katanya),
bagaimana dengan artis-artis, tokokh-tokoh nasional serta elit politik yang menggelar resepsi anaknya, sungguh bukan contoh yang baik bagi negarawan dan figur publik, sedang jika dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, nilai tersebut dapat menghidupi beberapa minggu orang-orang yang memang dianggap pantas menerima bantuan, jika prof mungkin lebih baik untuk modal usaha, menjadi wirausaha berhenti menjadi karyawan. Jadi untuk apa bermegah-megah dalam melukan pernikahan? pamer ? tidak enak dengan tetangga atau sambil menepuk dada dengan bangga berkata "inilah saya", saya katakan itu tidak perlu sama sekali, bukan sesuatu yang penting dan Tuhan tidak menilaimu dengan sebuah jamuan yang berlih-lebihan.

Ini adalah budaya yang harus segera diahiri, jika menganut paham islam, segala sesuatu harunya sesuai dengan kebutuhan, sederhana, tidak berlebih-lebihan, bahkan dalam salah satu ayat dalam Al-Qur'anil karim, Allah tidak menyuai hal yang berlebih-lebihan. Jika menarik poinya, islam mengajarkan menikah hanya perlu calon mempelai, wali, saksi dan ijab Qabul yang kemudian dikabarkan ketetangga agar tidak menimbulkan fitnah. 

Kemudian bicara tasyakuran, untuk melakukan banyak sekali bentuknya, mulai dari budaya kenduri atau yang paling sederhana adalah mengirim bingkisan disertai berita gembira. Dengan sistem gotong royong, orang-orang kita suka sekeli dengan sumbang-menyumbang, mulai dari berupa uang atau berupa non uang, bisa berupa beras, sayur mayur, tenaga atau yang lainnya, semua atas dasar iklas. 
Jaman sudah berubah, orientasi sudah bergeser pun dengan nilai-nilai lambat laun semakin memudar. Sumbangan berubah seperti arisan, pinjaman dan bentuk lain dengan sistem ketika dulu memberi lima harus mengembalikan lima, syukur lebih. peradaban moderen yang menghilangkan nilai dan hati.

Sebuah catatan kecil, auto-kritik penulis bagi diri sendiri dan masyarakat tentang semakin rancu dan abstraknya sebuah jaman. Mari memulai dari diri sendiri, keluarga kemudian biarkan orang lain berfikir tentang lingkungannya, tentang kebiasannya, apakah ini akan terus berlanjut ataukah dapat menjadi orang-orang asing yang akan kembali asing, sebab hanya orang asing yang akan meluruskan segala sesuatu yang salah. Jelas sekali prof sebagai penulis masih terus belajar dan belajar, terimakasih telah membaca dan mari berdiskusi